Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Priority Lists

|
Tak bisa tidur malam-malam (dan sekarang sudah jadi dini hari) membuatku asik berselancar di dunia maya. Just recently, i ended up looking at a post from Seth Godin titled Priority List.

What shockingly surprised me was that it was the issue which repeatedly discussed by me! That is one of the things that i hardly do, although my dad kept saying to me to always make a tomorrow's to-do list every night before i go to bed in order to make me aware of what need to be done. But i kept ignoring it.

One of my best friend, Grace, is an excellent example of a person who likes to make those lists. And as far as i know, she is so efficient!

In that post, Godin wrote a comment about making priority lists:
This is an unheralded skill, something successful people do really well and others struggle with.
I guess, i'm still struggling...

Nice Post: Mengapa Anak Sering mengatakan Tidak?

|
Tulisan ini aku kopi dari situs blog wordpress SDIT Citra Az-zahra. Menarik!

Batita atau anak prasekolah hidup dalam dunia mereka sendiri. Mereka akan melakukan apa yang mereka inginkan pada saat mereka ingin melakukannya. Bahkan, sesuai dengan perkembangan usia, sering mengatakan tidak adalah hal yang lazim dilakukan oleh anak-anak seusia mereka. Mereka juga menyukai konsistensi dan kepastian. Karena itu, mereka akan mengatakan tidak untuk menghindari sesuatu yang tidak mereka ketahui (”Aku tidak mau naik pesawat terbang!”), untuk menghindari perubahan (”Aku tidak mau pergi ke sekolah yang baru!”), untuk menghindari kegagalan (”Aku tidak mau belajar piano!”), dan untuk menghindari kehilangan kendali (”Aku tidak mau pergi ke tempat penitipan!”). 

Sebagai tambahan, para orangtua sering kali secara tidak sadar mendorong perilaku membangkang dengan tidak mengindahkan anak-anak mereka saat mereka menurut dan memberikan perhatian lebih saat mereka menolak melakukan sesuatu. Anak-anak akan dengan cepat belajar bahwa tidak menurut adalah cara yang mudah untuk mendapatkan perhatian orangtua mereka. Terakhir, anak-anak biasanya tidak melihat “rencana keseluruhan” yang dipikirkan oleh orangtua mereka saat mereka diminta melakukan sesuatu. Anak-anak tidak mengetahui konsep waktu, jadi mereka tidak mengerti urgensi yang dirasakan oleh orangtua mereka pada berbagai situasi.

(Tulisan ini diambil dari buku "Make Your Child Say Yes” karya Jerry Wyckoff, Ph.D dan Barbara C. Unell.)




The Lost Generation Video

|

It's Whitney Houston!

|
The Greatest Love of All

I believe the children are our are future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be




Everybody searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfill my needs
A lonely place to be
So I learned to depend on me

I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be

And if by chance, that special place
That you've been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strength in love

Setiap Orang Bisa Menghasilkan Sesuatu yang Keren!

|
Aku selalu percaya bahwa pasti ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari seseorang, bagaimanapun kondisi orang tersebut saat ini. Contohnya: salah seorang murid saya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Ia memang anak yang bersuara keras dan kinestetik sehingga ia lebih suka untuk terus bergerak. JIka hanya dilihat sepintas, anak ini mudah sekali dikategorikan sebagai anak yang bandel. Namun, jika ia diperhatikan dengan seksama, ia tergolong anak yang loyal dengan teman. Ia berteman baik dengan seseorang di kelasnya, ia sangat menghargai temannya itu. Jika temannya pergi ke kamar mandi dan mengalami kesulitan, ia senantiasa membantu.

Berikut ini adalah video mengenai seorang dengan kekurangan tubuh yang mampu menghasilkan musik yang indah berkat bantuan suatu alat canggih (yang saya sendiri, setelah berkali-kali menonton tayangan tersebut, masih belum paham cara kerjanya).





Aku pun pernah menampilkan bagian akhir video tersebut di dalam salah satu kelasku. Aku mengatakan kepada murid-muridku bahwa setiap orang bisa melakukan sesuatu yang keren, walaupun berbagai kelemahan tampak terlihat pada dirinya. Aku juga menambahkan, bahwa walaupun hari ini seseorang terlihat sangat lemah, namun dengan latihan dan kemauan, orang tersebut pasti mampu menjadi "seseorang yang keren"!

Perhatikan Baik-baik

|
Selalu ada alasan di balik setiap kelakuan anak.



***
Seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku TK memiliki kebiasaan mengetuk kepala teman-teman sekelasnya.Auch, sakit dooong!Kok Begitu sih? Setiap guru yang melihat kejadian itu tentu saja langsung menegurnya.

Apakah anak itu kemudian langsung terdiam? Ternyata tidak. Ia masih terus melakukan kebiasaan itu.

Sebenarnya apa yang berusaha disampaikan oleh sang anaK? Perhatikan baik-baik. Oh, ternyata, ia ingin bermain! Ia mengetuk kepala teman-temannya untuk mengajak mereka bermain. It might be the only way he knew.



***
Seorang anak memiliki kebiasaan berjalan-jalan selama pelajaran berlangsung. Guru yang melihat kebiasaan ini selalu memanggilnya kembali untuk duduk di kursinya. Dia pun menurut, tapi hanya sementara. Dia akan kembali berjalan-berjalan mengelilingi kelasnya. Bahkan, jika bisa, ia akan pergi ke luar kelasnya. Jika ada seorang temannya yang mengejarnya untuk membawanya kembali ke tempat duduknya, ia akan berlari dan berlari manghindari kejaran temannya itu.

Apakah ia anak yang sulit diatur? Perhatikan baik-baik. Ketika ia sedang berjalan-jalan, matanya selalu terpaku pada keadaan sekeliling. Ia akan mencari tempat yang ia anggap tidak lumrah di sekelilingnya kemudian mengamatinya. Setelah selesai mengamati, ia baru akan kembali ke tepat duduknya dan beristirahat. Ia selalu berlari menghindari kejaran-kejaran temannya dengan diselingi tawa. Rupanya, ia menganggap kejaran itu sebagai ajakan bermain.



***
Seorang anak terbiasa mengurung diri di dalam kamarnya jika ada tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.

Ah, ini pasti kasus yang sangat mudah dibaca. Ia pasti seorang yang sangat pemalu.

Tapi, perhatikan baik-baik. Anak itu ternyata tidak memiliki masalah sosial. Ia mampu berkomunikasi dengan baik dengan lawan-lawan bicaranya. Nah, sebenarnya apa yang membuatnya memilih untuk menyendiri di dalam kamarnya?

Ia tidak suka basa-basi. Ia ternyata sangat membenci kelakuan orang-orang sekitar yang sering membicarakan kejelekan orang lain. Ia lebih memilih untuk terdiam di kamar, mendengarkan potongan-potongan pembicaraan mereka, kemudian berharap ia tidak menjadi salah satu dari mereka.

It's for You :)

|
Hi!
My name is Karima Yolita.
I was born on 13th August 1982, from a Javanese father and an Arabic mother, that's why i got the unique appearance.
I have two little sisters, which makes me the oldest, and I live with my parents in West Jakarta.
Now, I work as an elementary teacher in a private school nearby.
I have several best friends and according to the personality plus test, i can be considered as a melancholic girl, but after i interact with my dearest best friend for more than 10 years, i develop the sanguine and choleric character.


I like a person who:
- believes in him/herself
- believes in others
- has goal(s) in his/her life
- is passionate
- is intelligent
- is loving and nurturing
- is mature
- is hardworking and persistent
- is a good driver
- likes to travel and loves to eat


on the other hand, i am a person who:
- will do anything for the persons i love
- is a friend you can rely on to
- can see the beauty in every person
- loves surprises
- loves movies and musics
- loves passionate works
- is easy to talk to
- is curious about a lot of things
- is madly in love with books
- is a gadget freak
- loves beautiful things
- easily adapts to new surroundings
- highly values what a person wants
- tends to see details and global at the same time
- believes that we, humans, can create nirvana in this world, and i'm doing it by becoming a lovely teacher for the community, as well as a great mother for my family
(more about me)

I love to hear other person's story so that i can learn something from it.
For me, everyone is a perfect being, that includes all the flaws within that person which make him/her even more beautiful.


Although my life hadn't been always smooth and wonderful, it makes me the way i am today and it makes me feel great!

I think the most luxurious thing in the world is the ability and the humbleness of willing to learn from anyone. Intelligence cannot just be given from school, it can only be earnt by hardworking, and it's definitely illinear with someone's scholar degree.

Memahami Kebutuhan Anak

|
Tanggal 16 Agustus 2008, saya menghadiri sebuah seminar yang sangat menarik mengenai cara membantu anak-anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah umum. Materi ini dibawakan dengan sangat baik oleh Dra. Dyah Puspita, seorang praktisi dan pemerhati pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Segala sesuatu yang ia paparkan sangat menarik. Namun, ada satu hal yang selalu nyantol di kepala saya hingga saat ini, yaitu masalah tahapan kebutuhan anak.

Apa sih yang sebenarnya penting diberikan kepada setiap anak? Apa yang seharusnya menjadi fokus pendidikan?

Di sebelah kiri ada sebuah piramida yang diperkenalkan oleh Bu Ita, panggilan akrab Dyah Puspita, dalam seminarnya itu. Pada tingkatan dasar piramida, ada self help, self regulation, dan functional communication. Kemudian academic skill pada tingkatan selanjutnya, dan socialization pada tingkatan teratas. Inilah yang disebut sebagai piramida kebutuhan anak.

Setiap orang tua dan pendidik harus mampu menyadari bahwa titik tumpu pendidikan bukanlah harus selalu kemampuan akademik, seperti yang selama ini diterapkan di sekolah. Tumpuan awal pendidikan adalah bagaimana menanamkan cara mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikirannya (functional communication), cara mengatur dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain (self regulation), dan cara mengatasi permasalahan-permasalahan hidup yang mendasar, misalnya: apa yang harus dilakukan ketika lapar, bagaimana cara membeli barang di toko, apa yang harus dilakukan ketika marah, apa yang harus dilakukan ketika ingin buang air, dan lain sebagainya (self help).

Apabila ketiga aspek tersebut belum ada pada diri seorang individu, maka sepintar apapun ia (academic skill sebaik apapun), ia akan mengalami hambatan untuk bersosialisasi dengan orang lain (tingkatan socialization), dan berkembang menjadi seorang individu yang utuh dan cemerlang. Keadaan ini yang seringkali dihadapi oleh para orang tua dan pendidik sekarang. Banyak individu yang ketiga aspek dasarnya belum tertata dengan baik sehingga menimbulkan masalah ketika masuk ke dunia masyarakat.

Tahapan-tahapan tersebut berlaku untuk setiap anak, bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus.

Ada sebuah kasus nyata yang pernah saya hadapi.

Seorang yang sudah masuk dalam dunia pekerja, seorang yang sangat brilian. Beliau terbiasa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dengan hasil yang sangat memuaskan. Beliaupun sangat disukai oleh teman-teman sekerjanya.

Ternyata, di rumah, beliau adalah seorang yang sangat pemalas, manja, dan egois. Beliau hampir tidak pernah melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri di rumah. Segala pekerjaan rumahnya, pakaian-pakaian kerjanya, kamar tidurnya, makanannya, semua dikerjakan oleh sang ibu. Beliau sangat pemarah. Seringkali beliau memarahi ibunya apabila segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang beliau inginkan. Sang ibu tak tahu harus berbuat apa, ia pun memutuskan untuk melakukan apa yang diinginkan anaknya tersebut.

Selama beberapa waktu, ketidaksinkronisan ini tidak terlihat sama sekali oleh teman-teman beliau di tempat kerja. Namun, emosi beliau lama-kelamaan terlihat di tempat kerja ketika setiap malam beliau harus ribut dengan ibunya akibat kejengkelan hatinya melihat sang ibu yang lebih sering mengurusi adiknya. Beliau menganggap tindakan sang ibu tidak adil. Kemarahan beliau yang terus menerus ini membuatnya sulit tidur dengan nyenyak dan terbangun dengan keadaan tubuh yang sangat tidak segar. Akibatnya, beliau seringkali harus terburu-buru datang ke kantor, malah kadangkala terlambat. Selain itu, beliau sering merasa sensitif dengan perkataan-perkataan teman sejawatnya yang awalnya ditanggapinya hanya sebagai gurauan. Pekerjaan-pekerjaan yang harus beliau tangani pun akhirnya tidak terselesaikan dengan prima.

Setelah diusut-usut, ternyata kemarahan beliau muncul terutama karena ada permintaan adiknya yang (terlihat) didahulukan, padahal (menurut beliau) sudah seringkali beliau meminta sesuatu dari sang ibu.


Kasus tersebut hadir jauh-jauh hari sebelum saya mengikuti seminar tersebut. Awalnya, saya menganggap kasus ini cukup pelik karena saya bingung harus memulai dari mana. Setelah dipaparkan tahapan tersebut, saya akhirnya paham (lagi) bahwa kepintaran bukanlah segalanya. Sosok "beliau" saya identifikasi belum memiliki kemampuan yang paling mendasar: kemampuan mengatur dirinya sendiri dan kemampuan berkomunikasi. Beliau cenderung tertutup. Akhirnya, dari sanalah saya mulai "bekerja". Beliau diberikan latihan untuk mengungkapkan sedikit demi sedikit mengungkapkan secara verbal apa yang ada di kepala beliau, apa yang beliau inginkan. Selain itu, beliau pun dilatih untuk melakukan secuil pekerjaan rumah dan sebagai balasannya sedikit reward atas apa yang telah beliau kerjakan. Saya pun tahu kapan "pekerjaan" saya itu harus berakhir: ketika ia sudah bisa menyiapkan segala sesuatunya sendiri, tanpa bantuan dari ibunya.

Efek samping yang mungkin terjadi beliau akan mengeluarkan emosinya yang meledak-ledak seandainya beliau sudah lelah. Well, i guess that will be in the next post.

Saya bersyukur, dengan dipaparkannya tahapan kebutuhan anak tersebut, saya bisa memahami (setiap) permasalahan pada anak. Sejak seminar tersebut hingga saat ini, banyak sekali permasalahan anak didik berseliweran di kepala saya, minta diusut sesegera mungkin. Awalnya saya mentok. Seluruh permasalahan itu hanya menonjolkan masalah akademik pada anak. Namun, sekarang saya mulai memilih manakah yang sebenarnya merupakan penyebab timbulnya kemandekan pada akademik anak berdasarkan data-data yang sudah saya peroleh. Dari sanalah saya dan beberapa rekan menggodok solusi untuk setiap kasus yang dihadapi.

Bagaimana dengan anak anda? Apakah kebutuhan dasarnya telah terpenuhi?